Wednesday, October 04, 2006

Strategi Pembukaan Kios Addina

Kios Addina yang kami rintis sejak 14 September 2006 semula hanya menyediakan jilbab, kerudung, dan aksesoris saja, tetapi kini telah melebar dengan menyediakan mukena, dan busana muslim anak. Bahkan ada permintaan baju muslimah, namun belum bisa kami penuhi.

Salah satu faktor yang menguntungkan bagi kami adalah momen pembukaan Kios Addina yang tepat menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1427H. Waktu dimana orang-orang sedang getol-getolnya mencari pakaian buat dirinya, anak, keponakan, dan keluarganya untuk persiapan lebaran.

Disamping faktor momen waktu tersebut ada beberapa faktor yang menjadi pendukung dalam menjalankan kios Addina antara lain :

# Lokasi yang Lumayan Strategis

Lokasi kios Addina ada di Jalan Bunga Rampai X (Depan RSJ Islam Klender) Perumnas Klender, Jakarta Timur. Lokasi kios dekat dengan pasar Perumnas Klender, dekat rumah sakit, dekat sekolahan. Jalan di depan kios bukan jalan raya yang dilalui mobil umum, tapi cukup ramai dilalui orang baik pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor.

Sehingga banyak warga pejalan kaki yang semula tidak ada tujuan mencari jilbab, karena tertarik dengan kios kami jadi mampir dan banyak yang jadi beli dan jadi pelanggan.

# Promosi dari mulut ke mulut

Kami belum melakukan upaya-upaya pemasaran secara menyeluruh. Praktis kami hanya menjalankan promosi dari mulut ke mulut. Hal ini didukung sifat penghuni Perumnas Klender yang hubungan antar tetangganya masih akrab.

Ini didukung pula oleh pengalaman istri saya yang sudah tinggal di perumnas sejak tahun 80-an, dimana isue kecil di Perumnas bisa jadi pembicaraan hangat. Kamipun ingin kios kami jadi bahan pembicaraan di kalangan perempuan sebagai target market kami.

# Diskon dan Harga Murah

Kami paham bahwa sebagian warga Perumnas Klender sangat sensitif dengan harga. Untuk itu atas produk-produk yang paten / bermerk dan harga sudah dibandrol dari agennya, kami potong harganya dalam bentuk diskon, dan Alhamdulillah responnya bagus.

Disamping itu atas produk-produk yang banyak dipasaran kami hanya mengambil sedikit keuntungan. Tujuannya untuk menarik masyarakat dan memperkenalkan kios kami sebagai kios yang murah. Banyak pelanggan yang datang membanding-bandingkan harga kami dengan harga di supermarket atau dipasar. Dan banyak yang balik lagi ke kios kami dan memutuskan membeli barang kami.

Ini juga sejalan dengan slogan kami "Berkualitas, Murah lagi. . ." Itulah image yang pingin kami bangun. Masalah keuntungan yang kecil, kami lakukan subsidi silang dengan barang-barang yang harganya "gelap" atau barang-barang yang tidak ada bandingannya (aksesoris, busana muslim anak, dll) yang bisa kami ambil keuntungannya sedikit lebih tinggi.

# Pemilihan Barang Bagangan

Dalam memilih barang yang kami tawarkan, awalnya kami hanya mengikuti kata hati kami. Terkesan asal-asalan memang. Tapi sejalan dibukanya kios, pelangganlah yang menanyakan barang-barang yang mereka butuhkan. Informasi inilah yang kami gunakan untuk menyediakan barang-barang berikutnya.

Dalam memilih barang, banyak saya serahkan kepada istri. Karena barang yang kami jual kebanyakan adalah kebutuhan wanita, jadi saya agak canggung dan belum benar-benar memahami barang sepertia apa yang bisa cepat laku. Istri saya cukup baik dalam memilih barang, sehingga banyak yang cepat laku, tapi tetap ada juga sih yang belum laku juga.

Selain dari Produk kerudung rabbani dan Jilbab PerMata's, kami juga mengambil dari Swarna Collection, Benayu Al Islmai dan banyak dari Tanah Abang. Setiap belanja kami coba berpikir jernih dan memilih barang dengan bijaksana.

# Kios yang Terbuka Lebar

Umumnya kios-kios atau outlet garment yang berada di pinggir jalan, bagian depannya menggunakan kaca dengan pintu kaca yang selalu tertutup, serta ber-AC.

Hal ini untuk menjaga ruangan tetap bersih dan barang dagangan (garment) tidak berdebu. Tapi karena keterbatasan modal, Kios Addina belum menggunakan AC dan bagian depannya kami biarkan terbuka lebar sama seperti kios-kios di dalam pasar.

Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Kios Addina, karena orang-orang yang lewat menjadi tidak suegan untuk masuk ke Kios dan melihat-lihat barang, tentunya banyak diantaranya yang menjadi pelanggan. Kalau bagian depan kios kami tutup kaca, ada kekhawatiran orang-orang menjadi sungkan untuk masuk.

Untuk menghindari barang-barang berdebu, sebagian kami bungkus dengan plastik dan sebagian kami biarkan terbuka. Secara rutin kami putar posisi barangnya sehingga tidak sampai berdebu.

# Upaya Spiritual

Ini juga penting, kami niatkan pembukaan kios sebagai ibadah, sebagai upaya kami menjemput rejeki yang lebih barokah (bukan mencari dan mengejar-ngejar rejeki lho). Sadar bahwa manusia adalah mahluk spiritual, kamipun senantiasa memanjatkan doa agar kios kami barokah, memberi manfaat bagi banyak orang, dan bisa melayani masyarakat luas.

Upaya spiritual yang juga kami yakini sangat penting dalam menjemput rejeki adalah shodaqoh, infaq, dan zakat. Ini hukum yang universal dan sama seperti hukum alam lainnya. Siapa yang melakukan pasti mendapat akibat yang sama. Rasanya tidak hanya agama islam yang menganjurkan, tapi juga agama lainnya.

Dengan keyakinan ini, menjadikan kami lebih tenang dan tetap memiliki optimisme dalam menjalani usaha.

# Pemilihan Karyawan

Ini strategi yang kami lalaikan!!. Kami akui telah memilih karyawati yang "keliru". Awalnya kami berpiki positif ingin mengentaskan pengangguran dari tetangga sendiri.

Kebetulan ada tetangga yang masih menganggur dan pernah bekerja cukup lama di ITC sebagai penjaga toko, sehingga kami beranggapan dia mampu dan mumpuni. Kami benar-benar mempercayakan dan menyerahkan operasional penjualan di kios kepadanya.

Ternyata kami keliru, karyawan kami tampak tidak bisa menikmati kerja di kios kami. Banyak keluhan dan kurang ramah. Kios sepi mengeluh, Kios ramaipun mengeluh.

Omset kios kamipun sering tidak mencapai target. Dan anehnya lagi sales di kios dikalahkan oleh sales dari adik kami yang membantu memasarkan di sekolahan (adik kami guru) yang dilakukan sebagai sampingan. Dan yang menjengkelkan, karyawan kami sering menyalahkan kami!! nah lho???

Dan puncaknya pada Minggu tgl 01 Oktober 2006 kemarin, saat karyawan minta libur dan kami menjaganya sendiri. Omset langsung melejit dan pelanggan berdatangan. Kami jadi berpikir "ngapain saja karyawan kami selama ini??"

Strategi langsung kami ubah, mulai Senin 02 Oktober, mertua kami merelakan waktunya untuk mendampingi karyawan. Dan hasilnya omset kembali membaik. Kami tetap memberi kesempatan sampai lebaran, dan kalau kinerja karyawan tidak juga membaik, kamipun siap memberhentikan kontraknya.

# Kesalahan Strategi Lainnya

Selain kesalahan dalam pemilihan karyawan, kami juga menemukan beberapa kekeliruan seperti dalam pemesanan barang, posisi / penempatan barang, pencahayaan ruangan, pembukuan, pemberian komisi, dll. Tentu secara perlahan-lahan akan kami perbaiki dan sempurnakan.

Demikian sebagian dari strategi yang kami alami, sebagian memang merupakan strategi yang terencana dan sebagian lainnya jalan begitu saja tanpa kami rencanakan. Kalau saja semua strategi diatas dipikirkan dan dibuat rencana yang matang sebelum buka usaha, kemungkinannya kios nggak jadi jalan karena akan terus takut.

Saya jadi teringat salah satu tulisan Bp. Zainal Abidin dalam konsultasi bisnisnya di eramuslim.com bahwa untuk membuka bisnis harus efektif dan efisien. Yang didahulukan adalah Efektifitas, baru disusul Efisiensi.

Dengan membuka Kios Addina dan berhasil melakukan penjualan berarti kami telah Efektif melakukan bisnis meskipun belum 100% efisien. Tinggal kami sempurnakan efisiensinya dan terus kami kembangkan.

Semoga Kios Addina bertambah maju dan besar sehingga bisa ikut mengatasi masalah pengangguran di Indonesia. Dan semoga tulisan ini bisa menginspirasi, khususnya bagi yang baru mau buka usaha atau bagi yang belum berani buka usaha.

Amin.

Salam

Fuad Muftie
muftie @ gmail . com
Kios Addina
"Berkualitas, Murah Lagi ..."

Tuesday, October 03, 2006

.:: Kios Addina ::.

Kios Addina adalah kios yang kami rintis dan kami buka sejak 14 September 2006. Kios Addina menyediakan produk berupa jilbab, kerudung, mukena, busana muslim anak, dan aksesoris. Produk yang kami usung antara lain dari Merk rabbani dan PerMata's serta produk-produk dari Tanah Abang. Dua minggu beroperasi, Kios Addina terlihat mulai berkembang, mulai dikenal banyak orang, dan omsetnyapun semakin membaik. (Alhamdulillah)

Kios Addina terletak di Jalan Bunga Rampai X (Depan RSJ Islam Klender) Perumnas Klender, Jakarta Timur.

Dari pertanyaan rekan-rekan di milis bizmart (bisnis-smart@yahoogroups.com), kenapa foto-foto kios Addina tidak dipajang di blog? maka saya coba mempublikasi sebagian foto-foto Kios Addina.

Foto diatas adalah foto kios tampak dari depan. Masih tampak sederhana, belum banyak dekorasi. Papan nama juga masih sangat sederhana.

Foto Diatas adalah foto anak kedua kami (Qinthara Muftie Addina) yang kami pakai nama belakangnya sebagai nama kios, sedang nampang didepan kiosnya.

Foto diatas, foto anak pertama kami (Kamal Muftie Yafi) yang sedang nampang di depan papan nama yang baru dibuat (Hand Made by Fuad Muftie) sebelum dipasang dikios.

Foto diatas foto anak-anak kami, adik, dan keponakan kami sedang menyambut pelanggan dengan lambain tangan mereka.

Foto Diatas adalah suasana di dalam kios dan pelanggan yang sedang memilih-milih barang.

Salam
Fuad Muftie
muftie @ gmail . com

Wednesday, September 20, 2006

SEMINGGU JADI PENGUSAHA

Hari ini (20 September 2006) adalah hari ke tujuh, genap seminggu, sejak pembukaan kios "Addina" : kios jilbab, kerudung, busana anak muslim, dan aksesoris. Kios mungil yang kami buka di Jalan Bunga Rampai X Perumnas Klender Jaktim ini bagaimanapun telah mengubah jalan hidup saya, istri saya, dan keluarga kami. Kami yang selama ini berorientasi "kuliah dan cari kerja", harus mulai memikirkan dan mengelola usaha sendiri, usaha yang dirintis dari awal, nol pengalaman.

Usaha ini jelas masih hijau dan masih bayi. Dengan optimisme serta visi yang kuat insyaAlloh dan mudah-mudahan usaha ini bisa bertahan dan berkembang.

Tujuh hari mengikuti perkembangan usaha kecil ini, kami banyak mendapat pelajaran berharga, pelajaran yang tidak kami diperoleh dari bangku kuliah, dari seminar, maupun dari workshop. Pelajaran yang hanya bisa diperoleh dengan mengalaminya sendiri.

Banyak pelajaran yang masuk akal dan banyak pula pelajaran yang tidak masuk akal, tidak logis, aneh dan bahkan kami sendiri tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata maupun dalam tulisan. Itulah mungkin yang dinamakan keajaiban, merupakan proses pembentukan keyakinan baru, dan menjadi hikmah kehidupan yang akan selalu menyertai kehidupan kami selanjutnya.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kami bagikan pada kesempatan kali ini antara lain:

# Guru terbaik adalah konsumen dan pelanggan #

Sebelum memulai usaha kecil ini kami hanya meraba-raba keinginan konsumen dengan merefleksikan keinginan dan kebutuhan kita sendiri. Kami menyediakan barang-barang seperti yang kami butuhkan dan kami inginkan. Kami juga bertanya-tanya kepada suplier tentang barang-barang yang laris. Dan dengan semangat kami meng-iya-kan dan mengikuti kata suplier.

Namun begitu kios dibuka, pelangganlah yang memberitahu kami tentang keinginan / kebutuhan mereka. Konsumenlah yang mengkritik stok barang yang kami sediakan, yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Akhirnya kami harus bolak-balik mencari suplier barang yang benar-benar dibutuhkan konsumen. Ini menjadi seni tersendiri dalam usaha ini.

Kami juga mulai senang kalau ada calon pelanggan yang cerewet, minta ini - itu, nanya ini - itu. Karena mereka sangat murah membagikan informasi baik ke kita maupun menyebarkan informasi kios kita ke orang lain (iklan gratis). Jadi kami perlakukan pengunjung kami sebagai guru yang harus dihormati dan didengar, juga sebagai raja yang harus dilayani.

# Jadi pengusaha harus terus optimis, apapun yang terjadi dengan usahanya #

Hari pertama membuka kios, omset hanya mencapai Rp. 150.000, padahal dalam hitungan minimal harus mendapat Rp.400.000-an perhari agar kios bisa bertahan dan karyawan tetap mendapat gaji. Hari pertama ini membuat istri saya down dan mulai berpikir pingin ganti usaha yang lain.

Untungnya kami sekeluarga bisa meyakinkan istri saya bahwa "hari pertama buka usaha, dapat segitu mah sudah untung!" Banyak koq yang berhari-hari buka usaha belum dapat pembeli. Dan Alhamdulillah keesokan harinya omset naik dan berhasil membuat istri saya kembali optimis.

Karyawati kami juga ikut mengalami kekhawatiran saat seharian jarang pengunjung yang datang. Tapi akan segera terobati kalau pengunjung mulai berdatangan. Yah, itulah seninya mengelola optimisme dalam berdagang. Kadang naik kadang turun, namun mental ini setidaknya harus diupayakan terus membaik, terus naik dan terus di atas.


Itulah secuil ilmu yang bisa kami peroleh selama seminggu menunggui "bayi" kami. Dan jelas belum ada apa-apanya dibanding pengusaha yang sudah mengalami berbagai musim dan berbagai cuaca, yang sudah naik bukit dan turun lembah. Banyak juga ilmu yang sampai saat ini masih menjadi puzzle, menunggu pemecahannya.

Tujuh hari merupakan waktu yang teramat sangat singkat untuk menilai jalannya suatu usaha, tapi tujuh hari itu pula yang telah membawa kami ke dunia yang baru, yang tadinya amat sangat menakutkan bagi kami. Inilah awal petualangan kami.

Kami terus berharap mudah-mudahan kami bisa terus menangkap hikmah-hikmah dari usaha kami dan semoga usaha ini bisa berkembang, bertumbuh, dan bisa memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia.

Salam

Fuad Muftie
Kios "Addina" : Jilbab, kerudung, busana anak muslim, aksesoris
Jalan Bunga Rampai X Perumnas Klender Jaktim